Beranda » Budaya » Belitung Timur » Intip Rahasia Terasi Terbaik ala Mengguru Cendil, Aroma Harum, Rasanya Soft

Terasi atau orang Belitong menyebutnya “Belacan” yang dibuat nelayan di Kampong Mengguru sangat berbeda dibanding terasi kemasan umumnya. Murni dari ‘Udang Rebon’ sebagai bahan asli atau dasar membuat terasi, tak dicampur-campur. Rasanya soft alias tidak strong, aroamanya pun harum, ternyata ada rahasianya.

Berburu Udang Rebon di Perairan Batu Pulas

BELITUNG TIMUR, JABEJABEHOLIDAY.ID – Mengguru merupakan kampong kecil di tepi laut yang terletak di Desa Cendil, Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur. Kampong Kecil? ya, karena kampong ini hanya terdiri dari lima rumah. Tak lebih.

Untuk ke Kampong Mengguru, anda bisa menuju Desa Cendil melalui jalan beraspal ke arah utara. Namun, jalan beraspal ini tak benar-benar sampai ke Mengguru, karena 4 kilometer ke arah Mengguru, anda akan menapaki jalan tanah merah.

Jika anda berangkat dari Bandara H.AS Hanandjoeddin menuju ke Kampong Mengguru, jarak tempuh yang akan dilalui sekitar 44 kilometer atau 58 menit. Tetapi jika anda berangkat dari Kota Manggar (Ibu Kota Kab. Belitung Timur), membutuhkan waktu 1 jam 26 menit berkendara atau dengan jarak 59 kilometer.

Dari Kampong Mengguru inilah produk terasi yang menambah kenikmatan makanan tersebut berasal. Baru-baru ini, Jabejabe Holiday sempat berkunjung ke kampong tersebut dan berkelakar banyak seputar rahasia dapur Terasi Mengguru bersama Kik Ashadi (61).

Cerita pembuatan terasi berawal dari menangkap udang rebon, bahan dasar terasi.

Biasanya Kik Ashadi turun ke laut saat terang tanah, atau istilah masyarakat lokal menyebut usai subuh. Di punggungnya sudah terpanggul ancau, sejenis pukat dengan waring halus seperti kelambu. Waring dengan lubang halus ini digunakan sebab udang rebon yang berukuran kecil.

Area menangkap udang biasanya di perairan yang tak terlalu dalam, umumnya sepinggang atau maksimal sedada orang dewasa. Nelayan pencari udang rebon berkeliling perairan mencari di mana terdapat sekumpulan udang rebon.

Setelah ditemukan, mereka menangkap udang rebon dengan cara menurunkan ancau ke dalam air lalu menariknya perlahan-lahan. Saat udang dirasa sudah masuk, lalu ancau dikatupkan.

Saat memburu udang rebon, Kik Ashadi tidak hanya mencari di satu tempat. Adapun daerah muara dan pesisir laut yang biasa menjadi incaran adalah Pantai Tanjung Batu Pulas, Sabang Gadong, dan Pantai Sungai Keladi. Namun demikian, momentum yang ditunggu-tunggu adalah saat udang rebon berimigrasi dari muara ke laut.

Saat berimigrasi, udang ini berjejer dalam jumlah banyak, bentuknya panjang laiknya pohon kelapa. Kik Ashadi yang sigap langsung menghadang dari depan dan udang-udang ini pun masuk ke dalam ancau yang telah ia siapkan.

Bicara seputar migrasi, Kik Ashadi mengatakan bahwa sebetulnya pada bulan Maret hingga pertengahan Nopember mereka berlindung ke timur. Begitu juga sebaliknya mereka ke barat saat Nopember hingga Maret.

Rahasia Membuat Terasi ala Mengguru

Udang rebon yang didapat, disimpan ke dalam karung. Setibanya di darat, karung berisi udang ini segera dimasukkan ke dalam tanah yang sebelumnya sudah dibuatkan lubang.

Saat berada di dalam lubang, karung ini tidak kembali ditimbun dengan tanah, melainkan ditutup dengan plastik atau seng. Agar saat hujan, airnya tidak masuk ke dalam karung. Karena jika air hujan masuk dan mengenai udang, akan mempengaruhi kualitas udang rebon yang nantinya akan diolah menjadi terasi.

Proses ini membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Jika dimulai pukul 08.00 pagi hari, maka pagi esoknya di jam yang sama udang-udang ini sudah siap diangkat.

Langkah selanjutnya adalah proses pengeringan, yakni dengan cara dijemur. Tingkat kekeringan saat dijemur pun kembali diatur, agar tidak terlalu kering. Cara mengujinya dengan digenggam, kalau sudah tak menggumpal, berarti sudah siap ditumbuk.

Udang yang sudah siap ditumbuk dimasukkan ke dalam lesung atau lumpang serta ditambahkan air hangat, lalu ditumbuk menggunakan alu. Air hangat inilah yang mengangkat aroma terasi nan harum khas Mengguru serta membangkitkan warna kemerahannya.

Menumbuknya pun perlahan, satu sisi, hingga tiga putaran. Biasanya udang-udang ini tidak ditumbuk sangat halus, karena banyak permintaan dari pelanggan yang menginginkan agar udangnya tidak hancur semua. Setelah itu, terasi pun bisa dimasukan ke dalam wadah dan siap digunakan.

Kini, Terasi Kampong Mengguru sudah dikemas dengan baik dan menjadi salah satu oleh-oleh khas Desa Cendil. Bagi anda yang ingin melihat langsung bagaimana proses pembuatan terasi, bisa langsung datang ke Kampong Mengguru. Selain itu, anda juga bisa berwisata ke Pantai Batu Pulas yang letaknya sekitar 2,8 kilometer dari kampong tersebut.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.