Museum Tanjungpandan

23 Agustus 2019 44x Belitung Barat

Beranda » Budaya » Belitung Barat » Museum Tanjungpandan

JABEJABEHOLIDAY.ID, IDEAS FOR HOLIDAYMuseum Tanjungpandan Belitung menyimpan sejarah panjang perdagangan internasional melalui ‘harta karun’ dan artefak-artefak yang tersimpan di dalamnya. Cerita ini menguak beberapa fakta sejarah bangunan kuno yang hingga kini masih berdiri, salah satunya Mercusuar Pulau Lengkuas.

Pulau Belitung merupakan perlintasan antara Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Letak Belitung yang strategis di peta dunia ini membuat jalur perdagangan bagi pedagang-pedagang Malaka dan Jawa. Juga berguna bagi peralihan pedagang dari berbagai negara lainnya.

Museum Tanjungpandan

 

Keberadaan terumbu karang yang terletak di bagian utara Pulau Belitung menjadi kendala bagi pelayaran nasional mau pun internasional. Dibangunnya mercusuar di tengah-tengah Pulau Lengkuas merupakan penanda, agar kapal-kapal yang melewati jalur ini tidak menepi di sekitarnya.

Sebelum berdirinya mercusuar di Pulau Lengkuas pada tahun 1882, tidak sedikit kapal-kapal perdagangan yang mengalami kendala hingga akhirnya karam. Penemuan ‘harta karun’ di sekitar pulau bagian utara Belitung merupakan penguat. Benda-benda temuan berharga ini diantaranya keramik, gerabah, senjata, emas batangan murni hingga fosil hewan.

Map

Belitung Shipwreck di Museum Tanjungpandan

Sekitar tahun 830 masehi, sebuah kapal dhow Arab melakukan pelayaran dari Afrika menuju China. Yang terjadi kemudian, tanpa diketahui sebab-musababnya, sudah tiba di China dan ingin kembali, kapal ini karam di sekitar perairan Pulau Belitung, tidak jauh dari Pulau Lengkuas.

Bagaimana pun, karamnya kapal ini paling tidak memberikan dua informasi penting bagi Arkeolog. Pertama, Arsitektur bangun Kapal dhow Arab dan Kedua, artefak yang diketahui dari Dinasti Tang. Referensi ini tentu saja melengkapi dokumen sejarah dagang antara Timur Tengah dan Tiongkok.

Untuk melihat peradaban dan sejarah ini lebih dekat, Anda bisa melihat berbagai koleksi yang tersimpan rapi di Museum Tanjungpandan Belitung.

 

Kilas Balik Pendirian Museum & Sejarah Bangunan

Awalnya, pendirian Museum Tanjungpandan ini diprakarsai Dr. Chaerul Saleh. Saat itu beliau menjabat sebagai Menteri Perindustian dasar dan Pertambangan RI. Tidak hanya di Belitung, arahan ini juga ditujukan pada wilayah penambangan timah lainnya seperti Singkep dan Bangka.

Sebagai pelaksana untuk mendidikan museum, ditunjuklah DR. Rudolf A.J. Osberger, Geologis berkebangsaan Austria (1928 – 1972). Rudolf pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Dinas Eksplorasi dan Geologi Perusahaan Tambang Timah di Belitung.

Kelapa Kampit merupakan rencana awal kota tempat didirikannya Museum Geologi ini. Namun atas dasar pertimbangan area yang lebih strategis dan memudahkan akses, diubahlah rencana dan dibangun di Tanjungpandan. Pemindahan ini atas instruksi Ir. MEA Apitule, Dirut Penambangan Timah Belitung pada masa itu.

Pada 2 Maret 1962, Museum Tanjungpandan menempati sebuah bangunan eks Kantor NV Billiton Maatschappij. Lokasi gedung ini terletak di Jalan Melati No.41A, Tanjungpandan. Sebelumnya gedung ini pernah digunakan sebagai tempat tinggal Kepala Penambangan Timah Belitung pada jaman Belanda.

 

Koleksi Museum Tanjungpandan

  • Pelataran Museum

Sebelum memasuki Gedung Museum Tanjungpandan, di halaman museum terdapat meriam, locomobil kereta barang (mesin industri jaman dulu) yang diproduksi Ransomes Sims & Jefferies. Kendaraan angkut produksi tahun 1908 ini pernah digunakan oleh perusahaan timah pada jaman Belanda. Penguatan ini melalui fakta sejarah, yaitu Prasasti Timah tertanggal 23 Juni 1923.

Di samping prasasti ini terdapat sebuah mangkok setebal 5 cm yang terbuat dari baja berdiameter 97 cm. Mangkok ini merupakan bagian penting dari Kapal Keruk, alat yang digunakan untuk mengeksploitasi timah di danau dan di laut.

Dua ekor patung Singa yang elok atau biasa disebut Cioksay juga bisa dilihat di halaman museum. Cioksay ini merupaka property sejarah yang dipindahkan dari rumah Kapiten Ho A Jun. Rumah Kapiten itu menyisakan Peninggalan lainnya di rumah kapiten tersebut adalah sebuah Toapekong Kapten Cina.

  • Koleksi Harta Karun di Dalam Museum

Hewan Purba
Memasuki ruang depan museum, pengunjung disambut oleh buaya muara berukuran besar dan ikan arapaima yang sudah diawetkan. Buaya jenis ini banyak ditemukan di muara-muara sungai pada perairan Belitung. Sementara itu Ikan arapaima terdapat di Sungai Lenggang Gantung.

Koleksi lainnya adalah berekong. Hewan Berekong ini merupakan sebutan Urang Belitung untuk biawak. Jenis ini memiliki badan yang kecil dan ramping, lincah, serta berkulit halus. Berekong adalah pemakan kodok.

Hewan paling purba di museum yang pernah ditemukan di area penambangan timah adalah Tengkorak Dimetrodon dan Gading Gajah. Dimetrodon hidup sekitar 280 – 265 juta tahun, jenis mamalia berkaki empat dengan punggung bersirip. Hewan ini cukup besar dengan panjang 3,8 meter serta memiliki berat kisaran 200 kilogram.

Kapal Keruk
Masih di ruangan yang sama, terdapat miniatur Kapal Keruk. Yaitu KK (kapal Keruk) Dendang yang dibuat pada tahun 1947 oleh Perusahaan Belanda yang bertempat di Amsterdam, Scheepswerf Verschure.

KK Dendang yang mampu mengeruk hingga 30 meter ini berukuran panjang 66 meter, lebar 20 meter, dan tinggi 4,2 meter. Alat ini digunakan untuk eksploitasi penambangan timah di laut. KK Dendang karam dihempas badai pada tanggal 8 Juli 2007.

Selain penambangan menggunakan Kapal Keruk, terdapat pula maket-maket yang menggambarkan metode penambangan biji timah. Yang paling terkenal adalah Sumur Palembang yang mulai dibuka pada tahun 1711.

Contoh logam dan bebatuan juga dipajang pada lemari terpisah, serta tersimpan apik di balik kaca. Ragam batuan biji logam ini diantaranya pyrite, siderite, kwarsa, kalsit, garnierite, batu kawi, timah, radio larit, nikel, hematite, serta banyak lagi.

Peninggalan Kerajaan Belitung, Jepang dan Belanda
Bersebelahan dengan ruang kapal keruk dan hewan purba, terdapat beberapa koleksi peninggalan Belanda dan Jepang. Samurai Jepang merupakan peninggalan senjata tertua yang dimiliki museum. Samura ini bertarikh tahun 1514.

Selain samurai, peninggalan Jepang lainnya adalah pedang. Beberapa senjata laras panjang milik kolonial Belanda juga tersimpan di ruangan ini.

Adapun tombak lade, keris, cap kerajaan, dan golok yang ada di lemari ruangan ini merupakan koleksi kerajaan yang pernah ada di Pulau Belitung. Selain senjata, ada pula beberapa peralatan yang digunakan orang Belitung pada jaman dulu seperti pahar, tempat sirih, seterika, gantang, periuk tembaga, dan ceret. Pengunjung juga bisa melihat koleksi uang kuno dalam bentuk logam dan kertas.

Nisan kayu Ki Agus Rahad, Depati Cakraningrat VIII juga terdapat di salah satu pojok ruangan. Beliau adalah Pendiri Kota Tanjungpandan Belitung. KA Rahad meninggal dunia pada tahun 1854, dan dimakamakan di Aik Labuk, Desa Kemiri, Kecamatan Membalong.

Di ruangan paling kiri museum, terdapat temuan keramik dari Dinasti Tang (618–907), Dinasti Sung (960–1279), Dinasti Ming (1368–1644), dan Dinasti Yuan (1279–1368), tersimpan apik di dalam lemari-lemari museum. Tidak hanya memuat penanggalan, pengunjung bisa melihat sejarah penemuan barang-barang antik ini.

Harta Karun dan Kapal-kapal Tenggelam

Koleksi keramik asal Tiongkok ini berupa mangkok, kendi, serta varian ornament lainnya. Selain penemuan asal Tiongkok, di museum ini juga menyimpan koleksi gerabah Thailand.

Museum Tanjungpandan

Sebagaimana disebutkan di atas, penemuan kapal tenggelam di sekitar perairan Belitung tidak hanya pada kapal dhow Arab. Pengunjung museum bisa melihat dokumen dan property sejarah penemuan Kapal Ashigara (Jepang), Don Duarte de Guerra (Portugis), Diana (Inggris), Turiang dan Tek Sing (China), Geldennalsen dan Nassau (Belanda),

Mini Zoo & Taman Bermain Anak-anak
Pada bagian belakang museum terdapat hamparan laman yang cukup luas. Area ini berfungsi sebagai taman bermain anak-anak dan kebun binatang (mini zoo) yang menyimpan sebagian kecil koleksi unggas dan reptil.

Selain ular, biawak, di kebun binatang ini juga terdapat buaya. Adapun selebriti dari kebun binatang ini adalah buaya yang pernah dilibatkan pada shooting Film Laskar Pelangi.

Demikian ragam koleksi yang terdapat di Museum Tanjungpandan, Belitung. Selain belajar mengenai sejarah, pengunjung yang datang ke museum juga bisa membawa serta keluarga untuk menikmati keanekaragaman hayati.

 

Let’s Explore Belitung

Tulisan di atas tentunya belum bisa memuaskan dan mampu memberikan gambaran utuh kepada Anda seputar Sejarah dan Budaya Belitung.

Anda bisa mengeksplor Belitung lebih dalam melihat lebih dekat apa dan bagaimana Negeri Laskar Pelangi melalui reservasi Paket Tour Belitung.

Itinerary wisata ke Museum Tanjungpandan ini termasuk dalam program Paket Tour Belitung 2 Hari 1 Malam, Paket Wisata Belitung 3 Hari 2 Malam, dan Paket Tour Belitung 4 Hari 3 Malam.

Pilihan Tour Belitung lainnya adalah Paket Honeymoon di Belitung, Outing Belitung, Open Trip Belitung, Liburan Keluarga, serta varian paket tour menarik lainnya.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.