Beranda » Pulau » Mengintip Pulau Penanas, Surga Snorkeling di Belitung Timur
Mengintip Pulau Penanas, Surga Snorkeling di Belitung Timur

Pulau Penanas di Perairan Desa Buku Limau tampak dari kamera drone. Foto: Istimewa/ Rizky.

BELITUNG TIMUR, JABEJABEHOLIDAY.ID – Bentuknya menyerupai ladam, seperti huruf U, tapi agak melengkung laiknya tapal kuda, ternyata itulah wajah Pulau Penanas setelah terlihat dari kamera drone.

Pulau Penanas merupakan tetangga Pulau Buku Limau dan Pulau Siadong di wilayah Perairan Desa Buku Limau, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Ketiga pulau itu termasuk dalam Gugusan Kepulauan Momparang.

Untuk menuju pulau ini bisa menggunakan perahu nelayan lokal dan membutuhkan waktu sekitar 45 menit dari Pelabuhan Nelayan di Manggar. Perjalanan laut kadang agak membosankan, karena yang terlihat itu-itu saja. Berbeda jika kita menuju Penanas yang acapkali terlihat sekumpulan ikan lumba-lumba.

Saat tiba, yang tampak dari Pulau Penanas adalah hamparan pasir, di satu bagiannya terdapat pepohonan cemara laut. Namun hal menarik dari pulau ini adalah keanekaragaman terumbu karang yang bisa dilihat dengan ber-snorkeling atau lebih baik jika menyusuri tebing karang dengan diving.

Adapun jenis-jenis terumbu karang yang bisa disaksikan diantaranya jenis Oxypora Lacera, Porites Lobata, Galaxea Fascicularis, serta beberapa jenis terumbu karang lainnya termasuk Acroporidae. Selain itu, beberapa jenis ikan termasuk nemo juga bisa disaksikan saat snorkeling atau diving.

Jika berminat, anda bisa menggunakan guide lokal yang sangat piawai dalam menjelajahi alam bawah laut. Saat ini pun Pemerintah Desa Buku Limau bersama-sama dengan Kelompok Sadar Wisata di desa tersebut sedang membangun Gedung Dive Center di area dermaga.

Kilas Balik Penanas

Meski kecil, Pulau Penanas pernah dihuni. Dulu, sekitar tahun 1980-an, Suku Bugis dari Provinsi Sulawesi Selatan mendiami Pulau Penanas. Pertimbangannya tak lain karena di area tersebut banyak ikan.

Kesulitan saat tinggal di Penanas adalah tidak adanya air tawar, maka suka tidak suka mereka harus mengambilnya di Pulau Buku Limau yang waktu itu masih terlihat seram dan tanpa penghuni. Bahkan, di sekeliling Buku Limau pun masih ditumbuhi mangrove (Bakau).

Namun, pilihan tetap bertahan di Pulau Penanas karena dekat dengan area tangkap ikan. Selain itu, kalau ke arah Buku Limau, karangnya banyak, dan pada saat itu orang-orang belum hapal jalur ke Buku Limau yang dikeliligi terumbu karang. Ditambah lagi, saat itu masih menggunakan perahu layar dan belum ada teknologi kapal bermesin seperti sekarang serta memiliki alat pendeteksi terumbu karang.

Orang-orang yang pindah ke Pulau Penanas waktu itu adalah orang Bugis asli. Karena penghidupan bagus dan dekat mencari ikan. Maka, kemudian di antara mereka saling bertukar kabar dan sanak saudara pun diajak dari Sulawesi ke Penanas.

Sejak itu, penghidupan di Pulau Penanas pun berlangsung. Di pulau nan kecil itu, ada yang menanam cabai, keladi, dan pohon kelapa. Namun tidak ada yang menanam nanas. Maka, perkara mengapa disebut Penanas, hingga kini masih menjadi tanda tanya.

Tahun 1990 adalah tahun terakhir, selanjutnya tahun 1991 orang-orang mulai sudah meninggalkan Penanas dan tinggal di Buku Limau. Sejak itu, yang tertinggal adalah sisa-sisa rumah.

Laiknya petani di darat yang berladang dengan sistem berpindah, begitu juga di laut. Orang-orang Bugis di Buku Limau dulu berapa kali berpindah ke Pulau Gersik di Belian atau Karang Raye. Mereka berbondong-bondong menggunakan perahu. Semua diangkut, keluarga dan barang-barang. Kemudian saat ikan sudah sulit para pelaut ini kembali lagi ke Buku Limau. Bisa dikatakan Buku Limau adalah pulau induk.

Namun sekarang gaya berpindah dari satu pulau ke pulau lain dan kembali lagi ke pulau induk sudah tidak lagi dilakukan. Mereka sudah mulai menetap, mungkin hanya kapal-kapal yang berlayar mencari ikan atau hasil laut lainnya sebagai sumber penghidupan.***

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.